Telp: (024) 8508092

Beranda » Berita » Unnes Kukuhkan Guru Besar Bidang Kependudukan dan Lingkungan

Unnes Kukuhkan Guru Besar Bidang Kependudukan dan Lingkungan

Rachmat Hidayatullah | Jumat, 22 Mei 2015 | 09:24:17 WIB | Akademik | dibaca 1298 kali

Universitas Negeri Semarang (Unnes) Kamis (21/5) bertambah satu Profesor yakni Prof. Dr. Ir. Saratri Wilonoyodho, M.Si. dari Fakultas Teknik. Upacara pengukuhan dipimpin oleh Rektor Unnes Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum di auditorium kampus Sekaran.

Hadir, Drs. Ali Mufiz, MPA (Mantan Gubernur Jawa Tengah), Prof. Dr. Sudharto P. Hadi (Mantan Rektor Undip), Prof. Sugiono Utomo (Undip), Prof. Mujahirin Tohir (Undip), Prof. Dr. Andreas Lako (Unika Soegijapranata), Prof. Fatimah Muis (Undip), Dra. Tjondroni, M.Kes (BKKBN Provinsi Jawa Tengeh).

Prof. Fathur Rokhman saat memberi sambutan menyampaikan, Prof. Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho, M.Si ini merupakan Profesor ke-101 Unnes, sebagai Profesor Bidang Kependudukan dan Lingkungan. Prof. Fathur juga mengemukakan, peran seorang Profesor diantaranya yakni menguatkan budaya dan atmosfir akademik dengan meningkatkan karya inovasif dan publikasi ilmiah, melahirkan generasi inovasi yang unggul dan berkarakter, menjadi daya dorong peran akademik dan kamanusiaan dari Unnes bagi Indonesia dan dunia.

Rektor berharap pencapaian Profesor bukanlah muara akhir dari pencapaian karir seorang dosen, namun harus tetap berkarya melahirkan karya-karya inovatif dan publikasi ilmiah di tingkat nasional dan internasional. Selain itu, lebih peduli kepada persoalan lembaga, masyarakat, bangsa, dan menjadi inspirasi serta bermanfaat bagi kemaslahatan.

Prof. Saratri Wilonoyodho saat pidato pengukuhan dengan tema "Urbanisasi Berlebih: Menyongsong Pulau Jawa Menjadi Pulau Kota" menyampaikan, menurut beberapa ahli, persoalan yang menyertai pertumbuhan kota-kota di negara-negara berkembang merupakan kegagalan kebijakan industrialisasi modern di satu sisi dan kegagalan pembangunan pertanian di sisi lain (urban bias), sehingga urbanisasi semakin tidak terkendali.

Jakarta misalnya kini telah "menyatu" dengan Depok, Tangerang, Bogor, Bekasi ("Jabodetabek") dan membentuk sebuah "megapolitan". Demikian pula Semarang dengan "Kedungsepur" (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), atau Surabaya dengan "Gerbang kertasusila" (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), dan juga kota Bandung Raya.

Studi kasus di Kota Semarang misalnya, menunjukkan bahwa kota ini tengah mengalami pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Kota Semarang memiliki "hinterland" atau daerah belakang yang meliputi kawasan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, dan Purwodadi), yang batas non-administratif tidak jelas secara kasat mata, sehingga menyatukan wilayah Semarang dengan kota-kota di sekitarnya sehingga membentuk suatu "megapolitan".Megapolitan banyak membawa masalah diantaranya masalah lingkungan, lalu lintas, permukiman, sampai ke masalah-masalah sosial.

Hasil penelitian dua puluh tahun lalu oleh Sutomo (1994) misalnya, sudah menunjukkan bahwa telah terjadi aglomerasi spontan di sepanjang jalur regional Semarang berupa kegiatan komersial dan ditandai oleh restrukturisasi internal, dengan ciri utama adanya pergeseran fungsi kota inti dari pusat manufaktur menjadi pusat-pusat kegiatan bisnis dan jasa.

Pada sisi lain, kegiatan manufaktur bergeser ke pinggiran kota. Secara fisik restrukturisasi ini ditandai dengan perubahan penggunaan lahan secara besar-besaran karena munculnya perumahan-perumahan baru dan lokasi pabrik.

Data BPS (2007) menunjukkan bahwa pada tahun 2001-2007 di Kecamatan Sayung Demak, yakni kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang telah terjadi konversi lahan sawah dari 3.000 ha menjadi 2.476 ha. Demikian pula konversi lahan sawah di perbatasan Kabupaten Kendal dan Kota Semarang juga terjadi di Kecamatan Kaliwungu, yakni dari 1.572 ha pada tahun 2000 menjadi 1.472 ha pada tahun 2007.

Dari konversi lahan pertanian yang cukup pesat ini, maka dapat dipahami jika laju pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian di Demak juga menurun dari 3,26 persen dari total PDRB pada tahun 2005 menjadi hanya 2,76 persen pada tahun 2007.

 

Sumber : unnes.ac.id


Berita Terkait

Jam Kerja

Senin - Kamis 07.00 - 16.00 WIB, istirahat 12.00 - 13.00 WIB

Jumat 07.00 - 14.30 WIB, istirahat 11.00 - 13.00 WIB

Kontak Kami

Telepon: (024) 8508092
Fax: (024) 8508084
Email: [email protected]

BAKK UNNES Gedung Rektorat Lantai 1, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang - 50229